Information System

Bagi rekan-rekan yang banyak berkecimpung di dunia Teknologi Informasi, istilah “Sistem Informasi” pasti sudah tidak asing lagi. Banyak (kalau tidak boleh dikatakan mayoritas) proyek besar Teknologi Informasi di Indonesia berada di sekitar pengembangan Sistem Informasi. Macam Sistem Informasi yang dikembangkan pun beragam sesuai dengan domain permasalahan yang disupport oleh sistem tersebut, contohnya saja Sistem Informasi Keuangan untuk mensupport proses keluar masuknya uang, Sistem Informasi Geografis untuk mensupport analisis yang berkenaan dengan geografi, dan  Sistem Informasi Kesehatan untuk mensupport analisis data kesehatan para pasien.

Dari sisi teknis, pengembangan Sistem Informasi sering dikatakan relatif “mudah”. Selain operasi add, update, dan delete data, biasanya tidak banyak fungsi kompleks yang perlu diimplementasikan dalam suatu Sistem Informasi. Kendatipun demikian, kesulitan utama dalam pengembangan suatu Sistem Informasi terletak pada analisis proses yang harus disupportnya: Bagaimana sistem tersebut dapat mendukung proses, sedangkan proses itu sendiri akan selalu berubah, entah itu ber-evolusi (perlahan-lahan) atau ber-revolusi (berubah dalam waktu cepat) sesuai dengan keputusan strategis manajemen.

Sepengetahuan saya, dalam metode pengembangan perangkat lunak yang seringkali dipakai (seperti RUP, RAD, atau bahkan XP), analisis terhadap proses diserupakan dengan analisis terhadap kebutuhan fungsional. Proses dimodelkan sebagai kumpulan kebutuhan fungsional yang terkait satu sama lain. Contohnya, lihat proses penanganan pasien yang digambarkan dengan statechart-diagram dibawah:

Contoh proses dalam statechart diagram

Contoh proses dalam statechart diagram

Dalam analisis, proses tersebut seringkali dimodelkan sebagai beberapa kebutuhan fungsional:
1. Registrasi pasien
2. Pemeriksaan dokter
3. Bayar pemeriksaan dan administrasi

Setiap kebutuhan fungsional kemudian diimplementasikan terpisah satu sama lain. Tim pengembang kebutuhan fungsional 1 tidak perlu tahu menahu mengenai kebutuhan fungsional 2 dan 3, meskipun sebetulnya kebutuhan fungsional 1, 2, dan 3 saling terkait dalam sebuah proses.

Dengan metode seperti ini, apa yang terjadi jika proses penanganan pasien perlu diubah?

Tim pengembang harus meninjau ulang, kebutuhan fungsional mana saja yang terkait dengan proses penanganan pasien. Setelah itu, baru dilakukan modifikasi sesuai kebutuhan proses yang baru, bisa dengan memodifikasi atau menghapus kebutuhan fungsional yang sebelumnya ada, atau menambahkan kebutuhan fungsional yang baru. Dengan cara ini, kesulitan akan timbul jika:

  1. Dokumentasi pemetaan kebutuhan fungsional terhadap proses tidak lengkap, sehingga tidak bisa dilacak kebutuhan fungsional mana saja yang terkait dengan proses penanganan pasien. Padahal, sudah menjadi rahasia umum bahwa dokumentasi seringkali dinomorduakan dalam pengembangan suatu perangkat lunak.
  2. Kebutuhan fungsional dalam proses penanganan pasien memiliki keterkaitan dengan proses lainnya, sehingga bila dilakukan modifikasi, ada kemungkinan proses lain juga akan terpengaruh. Padahal, dengan besarnya skup masalah dalam suatu sistem informasi, kemungkinan keterkaitan suatu kebutuhan fungsional dengan beberapa proses cukup besar, belum lagi jika proses maupun kebutuhan fungsional yang ada berjumlah sangat banyak.

Disinilah keunggulan metodologi pengembangan sistem informasi yang menitikberatkan proses. Pada intinya, metodologi ini menitikberatkan pada pemodelan proses dalam tahap analisis, daripada pemodelan kebutuhan fungsional satu-persatu. Model proses ini kemudian menjadi masukan bagi pembangkit kode, yang akan menghasilkan kode perangkat lunak yang sebenarnya. Jika terjadi perubahan proses, tim pengembang cukup mengubah model proses, lalu memberikannya pada pembangkit kode yang akan menghasilkan kode perangkat lunak untuk proses yang baru. Sebagai contoh tools, rekan-rekan bisa coba lihat YAWL (Open-source lho!) atau Staffware.

Metodologi pengembangan sistem informasi yang menitikberatkan proses bukan hanya menawarkan kemudahan dalam mengubah proses, tapi juga dalam menganalisis proses tersebut. Tools seperti Protos dan Woflan menyediakan fitur analisis terhadap model proses. Bahkan, dengan tools seperti Protos, CPN Tools, dan Arena, proses dapat disimulasikan terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan resource dan rata-rata waktu pelayanan. Bagi tingkatan manajemen, kelebihan ini tentunya sangat menarik.

Kendatipun demikian, sejauh eksplorasi saya, saat ini masih banyak hal yang perlu disempurnakan dari suatu metodologi pengembangan sistem informasi yang menitikberatkan proses. Berdasarkan materi yang saya dapat di kuliah terhadap berbagai model proses yang ada saat ini, belum ada tipe model yang “sempurna”, dalam artian dapat memodelkan semua pattern (data, resource, dan control) yang mungkin diperlukan dalam suatu proses. Berdasar pengalaman saya (bersama rekan-jenius Samuel dan rekan-jenius-Petri-Net Jimmy) bekerja dengan YAWL, perancangan basis data pun masih kurang diperhatikan, yang mungkin akan berdampak pada performansi sistem informasi. Masalah-masalah ini merupakan peluang-peluang penelitian yang berprospek tinggi di masa depan dan menunggu kontribusi dari kita semua. Apakah rekan-rekan berminat?

-Arya-


Senang rasanya saat pertama kali mendengar ide dari Arya untuk membuat blog bersama teman-teman di Eindhoven untuk Indonesia. Sungguh patriotis, ada nuansa nasionalis. Eindhoven untuk Nusantara…, romantis abis.

Berhubung belum ada yang memulai menulis, saya ingin mengawalinya dengan judul yang provokatif dan agak kontroversial. Berawal dari kesibukan saya mencari topik untuk final project, dosen pembimbing saya memberikan sebuah buku referensi untuk saya baca yang berjudul Environmental Problems and Human Behavior oleh Gardner & Stern (tersedia di perpus TU/e kalau ada yang tertarik).

Dalam salah satu babnya, buku tersebut menguraikan bagaimana orang yang lebih religius ternyata lebih tidak peduli terhadap lingkungan jika dibandingkan dengan orang yang kurang religius. Research survey yang dilakukan oleh Eckberg & Blocker di US sebagai contoh menyampaikan temuan bahwa umat Kristiani dan Yahudi kurang perhatian terhadap lingkungan dibandingkan dengan non kristiani dan yahudi. Lebih lanjut dilaporkan bahwa mereka yang kepercayaannya terhadap Bible paling kuat justru paling lemah kepeduliannya terhadap masalah-masalah lingkungan.

Ah, mungkin ada yang salah dengan metode surveinya?

Responden pertama kali ditanya apakah mereka Kristiani atau Yahudi, atau dari agama yang lain. Pertanyaan lain misalnya responden disuruh memilih diantara 3 pernyataan yang paling mewakili kadar kepercayaan mereka terhadap kebenaran Bible, yaitu: “Bible adalah kata-kata sebenarnya dari Tuhan jadi harus dipahami dengan apa adanya”, atau “Bible adalah kata-kata yang terinspirasi dari Tuhan, tapi ditulis oleh manusia sehingga memungkinkan terjadi kesalahan”, atau “Bible adalah buku lama tentang sejarah dan legenda yang ditulis oleh manusia”.

Responden kemudian juga ditanyai 12 pertanyaan terkait masalah lingkungan dan sejauh mana perhatian responden terhadap masalah tersebut. Selain itu ada beberapa pertanyaan tambahan terkait umur, pendapatan, pendidikan, dan variabel-variable terkait lainnya. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan bahwa mungkin saja tingkat keyakinan berkaitan dengan umur dan pendidikan. Seperti diketahui generasi tua cenderung lebih tebal keyakinannya dibandingkan kaum muda. Believers kemungkinan besar memiliki strata pendidikan lebih rendah dari non-believers. Orang tua atau mereka yang lebih rendah pendidikannya cenderung lebih konservatif dibandingkan mereka yang lebih muda atau mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Jadi, mungkin penyebab utama rendahnya kepedulian terhadap lingkungan bukan pada tingkat kepercayaan, tapi lebih karena faktor umur, pendidikan, dll.

Dari analisa statistik yang mereka lakukan, tetap memberikan hasil negatif tersebut. Tentu kemudian ada yang membantah, atau memberikan pendapat yang berbeda. Tapi kita tidak perlu bahas semuanya di sini. Tentu saja kita tidak serta merta bisa menyimpulkan memeluk Judeo-Christianity membuat anda tidak peduli terhadap lingkungan. Masih mungkin ada variabel lain yang mungkin luput dari pengamatan.

Kemudian, 1993 General Social Survey justru memperkuat dugaan ini. Responden diminta memilih diantara 3 pernyataan berikut yang paling mewakili kepercayaan mereka; ‘Nature is spiritual or sacred by itself’, Nature is sacred because it is created by God’, atau ‘ Nature is important, but not spiritual or sacred’. Kemudian responden diminta menjawab kuisioner untuk mengukur tingkat kepedulian mereka terhadap lingkungan. Bisa ditebak, mereka yang percaya bahwa alam itu keramat memang lebih pro lingkungan dibandingkan mereka yang menganggap alam tidak keramat. Namun, yang justru mengejutkan adalah ketika dikaitkan antara kekeramatan alam karena ciptaan Tuhan atau alam keramat dengan sendirinya, tampak bahwa mereka yang tidak mengaitkan Tuhan dengan kekeramatan alam justru lebih pro lingkungan dibandingkan dengan mereka yang mengaitkan Tuhan dengan kekeramatan alam.

Kepercayaan-kepercayaan non-barat juga menunjukkan hasil yang tidak lebih baik. Dari studi sejarah masa lalu menunjukkan bagaimana kebudayaan-kebudayaan lama Mesir, Persia (Irak), Afrika utara, dan Astect telah merusak alam mereka sendiri sampai ke tingkat yang cukup untuk menghancurkan peradaban mereka.

Di sisi lain, kebudayaan lama India dan Cina (Hindu, Buda, Tao, dan Confucianism) serta kepercayaan penduduk asli Amerika lebih beruntung. Oleh para peneliti studi sejarah dan kebudayaan, kebudayaan asli Amerika dan kebudayaan di kedua negara Asia ini diakui lebih pro lingkungan. Jika sekarang kedua negara tersebut juga mengalami kerusakan lingkungan yang parah, para peneliti ini berkilah bahwa hal tersebut lebih diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang tak terkendali dan masuknya paham imperialisme barat.

Terus, apa dong penjelasan logis yang melatarinya? Mengapa orang-orang dengan nilai-nilai dan keyakinan Ketuhanan yang tinggi cenderung memiliki kepedulian lingkungan yang lebih rendah?

Bersambung….