Senang rasanya saat pertama kali mendengar ide dari Arya untuk membuat blog bersama teman-teman di Eindhoven untuk Indonesia. Sungguh patriotis, ada nuansa nasionalis. Eindhoven untuk Nusantara…, romantis abis.
Berhubung belum ada yang memulai menulis, saya ingin mengawalinya dengan judul yang provokatif dan agak kontroversial. Berawal dari kesibukan saya mencari topik untuk final project, dosen pembimbing saya memberikan sebuah buku referensi untuk saya baca yang berjudul Environmental Problems and Human Behavior oleh Gardner & Stern (tersedia di perpus TU/e kalau ada yang tertarik).
Dalam salah satu babnya, buku tersebut menguraikan bagaimana orang yang lebih religius ternyata lebih tidak peduli terhadap lingkungan jika dibandingkan dengan orang yang kurang religius. Research survey yang dilakukan oleh Eckberg & Blocker di US sebagai contoh menyampaikan temuan bahwa umat Kristiani dan Yahudi kurang perhatian terhadap lingkungan dibandingkan dengan non kristiani dan yahudi. Lebih lanjut dilaporkan bahwa mereka yang kepercayaannya terhadap Bible paling kuat justru paling lemah kepeduliannya terhadap masalah-masalah lingkungan.
Ah, mungkin ada yang salah dengan metode surveinya?
Responden pertama kali ditanya apakah mereka Kristiani atau Yahudi, atau dari agama yang lain. Pertanyaan lain misalnya responden disuruh memilih diantara 3 pernyataan yang paling mewakili kadar kepercayaan mereka terhadap kebenaran Bible, yaitu: “Bible adalah kata-kata sebenarnya dari Tuhan jadi harus dipahami dengan apa adanya”, atau “Bible adalah kata-kata yang terinspirasi dari Tuhan, tapi ditulis oleh manusia sehingga memungkinkan terjadi kesalahan”, atau “Bible adalah buku lama tentang sejarah dan legenda yang ditulis oleh manusia”.
Responden kemudian juga ditanyai 12 pertanyaan terkait masalah lingkungan dan sejauh mana perhatian responden terhadap masalah tersebut. Selain itu ada beberapa pertanyaan tambahan terkait umur, pendapatan, pendidikan, dan variabel-variable terkait lainnya. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan bahwa mungkin saja tingkat keyakinan berkaitan dengan umur dan pendidikan. Seperti diketahui generasi tua cenderung lebih tebal keyakinannya dibandingkan kaum muda. Believers kemungkinan besar memiliki strata pendidikan lebih rendah dari non-believers. Orang tua atau mereka yang lebih rendah pendidikannya cenderung lebih konservatif dibandingkan mereka yang lebih muda atau mereka yang berpendidikan lebih tinggi. Jadi, mungkin penyebab utama rendahnya kepedulian terhadap lingkungan bukan pada tingkat kepercayaan, tapi lebih karena faktor umur, pendidikan, dll.
Dari analisa statistik yang mereka lakukan, tetap memberikan hasil negatif tersebut. Tentu kemudian ada yang membantah, atau memberikan pendapat yang berbeda. Tapi kita tidak perlu bahas semuanya di sini. Tentu saja kita tidak serta merta bisa menyimpulkan memeluk Judeo-Christianity membuat anda tidak peduli terhadap lingkungan. Masih mungkin ada variabel lain yang mungkin luput dari pengamatan.
Kemudian, 1993 General Social Survey justru memperkuat dugaan ini. Responden diminta memilih diantara 3 pernyataan berikut yang paling mewakili kepercayaan mereka; ‘Nature is spiritual or sacred by itself’, ‘ Nature is sacred because it is created by God’, atau ‘ Nature is important, but not spiritual or sacred’. Kemudian responden diminta menjawab kuisioner untuk mengukur tingkat kepedulian mereka terhadap lingkungan. Bisa ditebak, mereka yang percaya bahwa alam itu keramat memang lebih pro lingkungan dibandingkan mereka yang menganggap alam tidak keramat. Namun, yang justru mengejutkan adalah ketika dikaitkan antara kekeramatan alam karena ciptaan Tuhan atau alam keramat dengan sendirinya, tampak bahwa mereka yang tidak mengaitkan Tuhan dengan kekeramatan alam justru lebih pro lingkungan dibandingkan dengan mereka yang mengaitkan Tuhan dengan kekeramatan alam.
Kepercayaan-kepercayaan non-barat juga menunjukkan hasil yang tidak lebih baik. Dari studi sejarah masa lalu menunjukkan bagaimana kebudayaan-kebudayaan lama Mesir, Persia (Irak), Afrika utara, dan Astect telah merusak alam mereka sendiri sampai ke tingkat yang cukup untuk menghancurkan peradaban mereka.
Di sisi lain, kebudayaan lama India dan Cina (Hindu, Buda, Tao, dan Confucianism) serta kepercayaan penduduk asli Amerika lebih beruntung. Oleh para peneliti studi sejarah dan kebudayaan, kebudayaan asli Amerika dan kebudayaan di kedua negara Asia ini diakui lebih pro lingkungan. Jika sekarang kedua negara tersebut juga mengalami kerusakan lingkungan yang parah, para peneliti ini berkilah bahwa hal tersebut lebih diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang tak terkendali dan masuknya paham imperialisme barat.
Terus, apa dong penjelasan logis yang melatarinya? Mengapa orang-orang dengan nilai-nilai dan keyakinan Ketuhanan yang tinggi cenderung memiliki kepedulian lingkungan yang lebih rendah?
Bersambung….
Filed under: Uncategorized | 8 Comments
Cari
-
Anda sedang menjelajah arsip weblog Eindhoven Untuk Nusantara.
Sambungannya belom ada ya Pak?
sama nih pertanyaannya. Ditunggu kelanjutan analisanya Pak…
Pak Wayan nih, emang ga salah jadi sesepuh TU Eindhoven angkatan 2007
Jadi pionir dalam penulisan karya ilmiah di blog
Btw, penasaran nih, bentuk perusakannya lingkungannya seperti apa Pak? Apakah orang2 yang notabene lebih ‘beriman’ merusak lingkungan secara sadar, atau tidak?
Yang lain mana? kok ga ada yang nulis?
Soal pengukuran kepedulian terhadap lingkungan bisa sangat sederhana. Misalnya, apakah kita mematikan lampu saat meninggalkan kamar, kemauan membayar lebih mahal untuk produk ramah lingkungan/organik (consumer behavior), kemauan menyumbang untuk lingkungan (financial sacrifice), partisipasi dalam demo lingkungan (political behavior), dll.
Dari perbandingan prilaku ini, disimpulkan bahwa orang yang lebih religius kalah kepeduliannya terhadap lingkungan. Contoh lain, lebih kecil kemungkinannya orang dayak pedalaman untuk menebang hutannya dengan sembarangan dibandingkan dengan orang jawa (misalnya). Kita berasumsi orang jawa “lebih beragama” dari orang dayak. Cara kedua kebudayaan ini memandang dan memposisikan alamnya berbeda.
Nanti deh kita bahas lagi…
Oya, sekedar tambahan,
Seruan untuk mengurangi sampah plastik atau membawa sendiri tas saat belanja ke supermarket lebih sering kita dengar di acara konser anak-anak punk daripada di acara pesantren (sekedar pemisalan lagi). Ini mungkin juga bisa dipakai sebagai pembanding.
Merokok?
hehehe, pertanyaan sam yang satu ini harus dilihat dari konteks saat dia melihat saya menghisap rokok oleh-oleh dari cina. (makasi telah mengingatkanku untuk tidak memulai lagi, sam)
merokok itu bisa didekati dengan kebiasaan lain macam menonton sinetron atau nonton bokep, sam. kita semua tahu kebiasaan-kebiasaan itu ga ada manfaatnya dan cuma buang-buang energi listrik dan waktu. tapi toh banyak orang tetap melakukannya.
(kidding)
tuh maSSam, kata pak Wayan, nonton sinetron dan bokep itu tidak bermanfaat dan cuma buang-buang energi listrik dan waktu.
(langsung kabur….
)